Perjalanan Mengharukan Guru TpQ Menerbitkan Buku “Pernikahan Jariyah” di Tengah Keterbatasan

                      Gambar ilustrasi 

Perjalanan Mengharukan Guru TpQ Menerbitkan Buku “Pernikahan Jariyah” di Tengah Keterbatasan
pernikahan jariyah

Menulis buku bukanlah perjalanan singkat. Dibutuhkan ketekunan, konsistensi, dan sering kali biaya yang tidak sedikit. Namun kisah seorang Guru TpQ dalam menulis dan menerbitkan buku “Pernikahan Jariyah” adalah kisah nyata tentang tekad yang kokoh, doa yang tidak pernah padam, dan perjuangan yang layak diabadikan.

Buku tersebut tidak lahir dari kemewahan. Ia lahir dari kesederhanaan, dari perjalanan panjang seorang pendidik Qur’an yang kesehariannya mengajar di sebuah TpQ kecil dengan penghasilan yang tidak besar. Namun justru di situlah letak nilai ceritanya: ketika keterbatasan tidak mampu mematahkan semangat untuk berkarya dan beramal jariyah.


Dunia Penerbitan yang Tidak Lagi Sama

Banyak orang tidak mengetahui bahwa dunia penerbitan telah berubah jauh. Dahulu, penerbit menanggung seluruh biaya produksi: mulai dari editing, layout, ISBN, hingga cetak buku. Penulis hanya perlu menulis, dan mereka mendapatkan royalti.

Namun hari ini, sistem itu tidak banyak lagi ditemui. Banyak penerbit justru meminta penulis untuk membayar:

biaya editing,

biaya layout,

biaya ISBN,

biaya cetak awal.

Bagi seorang Guru TpQ dengan penghasilan sederhana, tantangan ini bukan hal kecil.

Awal Perjalanan: Belajar Menulis di Masjid Agung Surabaya

Segalanya dimulai dari langkah kecil: mengikuti kelas kepenulisan di Masjid Agung Surabaya. Kelas sederhana, namun penuh semangat dan ilmu.

Dari sanalah ia belajar bahwa menulis bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang keberanian memulai. Ia pulang membawa tekad baru, mulai menyusun kerangka buku, dan menuangkan gagasan tentang pernikahan sebagai ladang amal jariyah.

Cobaan Datang: Laptop Satu-Satunya Rusak

Di tengah proses menulis, laptop satu-satunya yang ia miliki rusak total. Laptop itu adalah alat utama untuk menyelesaikan naskah. Sebagai Guru TpQ, ia tidak memiliki cukup uang untuk memperbaikinya segera.

Namun ia memilih untuk tidak menyerah.

Sepeda Rusak, Harus Jalan Kaki 3 Kilometer

Biasanya ia naik sepeda gayung menuju Masjid Agung Surabaya. Tapi takdir berkata lain sepeda itu juga rusak. Tidak punya pilihan lain, ia berjalan kaki hampir 3 kilometer dari kontrakannya menuju masjid. Bukan untuk rekreasi, tetapi untuk melanjutkan menulis.

Menulis di Perpustakaan Masjid Agung Surabaya

Setibanya di masjid, ia menuju perpustakaan, tempat sunyinya. Di sana ia meminjam komputer umum, membuka draft naskah, dan kembali menulis. Di antara rak-rak buku dan pengunjung yang silih berganti, ia terus mengetik dengan penuh ketekunan.

Sesekali ia berhenti untuk menarik napas panjang, menatap keluar jendela perpustakaan, lalu kembali menulis. Perpustakaan itu menjadi ruang yang tidak hanya membantu, tetapi juga memulihkan semangatnya.

Masalah Baru: Biaya Penerbitan yang Terlalu Besar

Ketika naskah selesai, masalah tidak ikut selesai. Ia justru dihadapkan pada biaya penerbitan yang tidak terjangkau. Sebagai Guru TpQ, penghasilannya tidak cukup untuk menutup segala kebutuhan penerbitan.

Ia sempat bimbang dan hampir menyerah.

Namun Allah selalu punya jalan.

Pertolongan Tak Terduga dari Tetangga Baru di Waru, Sidoarjo

Tanpa diduga, pertolongan datang dari seorang tetangga baru di Waru, Sidoarjo orang yang bahkan belum lama ia kenal, tetapi langsung percaya padanya.

Tetangga itu meminjamkan sejumlah uang tanpa syarat apa pun sambil berkata:

 “Kalau untuk kebaikan, ambil saja. Semoga Allah mudahkan.”

Kalimat sederhana, namun terasa seperti pelukan hangat bagi jiwa yang hampir putus asa.

Lahirnya Buku “Pernikahan Jariyah”

Dengan bantuan tersebut, akhirnya buku “Pernikahan Jariah” berhasil diterbitkan. Buku ini bukan hanya karya tulis, tetapi simbol perjalanan panjang penuh air mata, langkah yang melelahkan, dan doa yang terus dipanjatkan.

Kini buku itu hadir sebagai pengingat bahwa pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan, tetapi juga menjadi pintu amal jariyah yang mengalir tanpa henti.

👉 Lihat bukunya di sini:buku pernikahan jariyah

Pelajaran Berharga dari Kisah Ini

1. Keterbatasan bukan akhir dari perjalanan

Laptop rusak, sepeda rusak, harus berjalan kaki ,semua ia tempuh demi satu impian.

2. Allah mengirim pertolongan melalui siapa saja

Pertolongan dari tetangga baru adalah bukti bahwa bantuan datang melalui jalan yang tidak disangka.

3. Menulis adalah amal jariyah yang abadi

Ilmu yang bermanfaat akan terus hidup dan mengalirkan pahala, meski penulisnya telah tiada.

4. Proses panjang melahirkan karya yang bermakna

Perjuangan yang besar menghasilkan cerita yang indah dan berkesan.

Penutup

Perjalanan ini bukan sekadar proses menulis buku. Ini adalah perjalanan spiritual, perjalanan kesabaran, dan perjalanan iman seorang Guru TpQ. Semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi siapa pun yang sedang berjuang bahwa meski jalan terkadang pahit dan panjang, Allah SWT selalu menyiapkan akhir yang indah bagi mereka yang tidak menyerah. Semoga buku yang bermanfaat menjadi amal jariyah yang tidak terputus.

Comments

Popular Posts