Bukan Sekadar Kisah, Tapi Jeritan yang Tertahan
Bukan Sekadar Kisah, Tapi Jeritan yang Tertahan
"Ketika suara kami tak cukup keras untuk menembus ruang-ruang kekuasaan, maka tulisan ini kutinggalkan sebagai jejak. Agar kelak, tak ada yang bisa berkata kami diam.”
Aku tidak sedang mencari panggung.
Aku tidak menulis ini untuk menuduh.
Tapi aku ingin mencatat. Agar luka ini tidak menguap begitu saja seperti embun pagi yang dijemput matahari, padahal dinginnya masih menetap di tubuh.
Kisah ini bukan tentang aku saja. Tapi tentang perempuan yang pernah datang ke kantor sebuah lembaga, membawa harapan dan naskah luka. Tentang seorang kakak, seorang guru ngaji, yang hanya ingin hidup tenang tanpa ditarik ke jurang tipu daya dan rayuan kekuasaan. Tapi saat ia berkata “tidak,” seluruh pintu seakan ditutup.
Aku menuliskannya dengan getir, tapi tenang. Karena aku tahu, kata-kata yang ditulis dengan kepala dingin bisa lebih tajam dari teriakan. Aku sudah mencoba mendatangi mereka. Lembaga bantuan hukum, yang katanya ada untuk membela kaum kecil. Dinas, yang katanya ada untuk rakyat.
Tapi Apa yang Kami Terima?
Dibaca, tapi tak dibalas.
Direspon, lalu hilang.
Dijanjikan, lalu dilupakan.
Diangkat—lalu dijatuhkan diam-diam.
Aku datang sebagai rakyat biasa. Dengan sandal jepit yang basah karena kehujanan menempuh jarak 20 kilometer. Aku datang dengan kronologi, bukti, dan secarik keyakinan bahwa negara ini masih punya hati.
Tapi hari demi hari, aku hanya memandangi layar WhatsApp tanpa centang dua. Atau kadang centang biru, tapi kosong tanpa balasan. Tak ada kejelasan. Tak ada kepedulian.
Apa kami tak cukup penting untuk dibela?
Atau memang kami tidak menarik untuk dijadikan konten?
Aku bahkan sempat bertanya dalam hati, apakah bantuan hukum hanya untuk yang viral? Apakah kami harus tampil dulu di media, membuat heboh, lalu baru dianggap ada?
Kami Tidak Butuh Simpati. Kami Butuh Jawaban.
Kakakku hanya seorang guru TPQ, pengabdi yang tidak pernah memikirkan upah. Ia datang ke kantor dinas hanya karena ingin bertanya soal program transmigrasi, berharap ada peluang untuk melanjutkan kuliah. Tapi yang datang bukan formulir atau pencerahan—melainkan candaan seksual, rayuan nikah siri, ciuman paksa, dan janji palsu yang menyakitkan.
Saat kami bawa cerita ini ke lembaga yang katanya berpihak pada perempuan, responnya menggantung. Saat kami berharap ada pendampingan hukum, yang datang justru keheningan panjang yang menyiksa. Kami bercerita, tapi mereka seolah mendengar untuk lupa.
Aku kecewa. Tapi lebih dari itu, aku merasa ditinggalkan oleh sistem yang semestinya melindungi. Seperti disuruh berenang di lautan hukum, padahal kami tak diajari caranya.
Maka, Aku Menulis
Karena diam tak lagi menyehatkan.
Karena luka tak bisa sembuh kalau terus ditutup-tutupi.
Karena negara terlalu sering pura-pura tuli terhadap rakyat kecil, tapi begitu cepat mengejar mereka yang bersuara terlalu keras.
Tulisan ini bukan teriakan. Ini adalah pelan-pelan suara yang menolak dilenyapkan. Aku ingin anak-anak muda tahu bahwa tidak semua yang membawa embel-embel “bantuan” benar-benar membantu. Tidak semua yang menyebut diri sebagai “pelayan publik” benar-benar melayani. Ada yang hanya menggunakan jabatannya untuk menutupi rasa berkuasa yang buruk rupa.
Kami bukan ingin membuat gaduh. Kami hanya ingin diperlakukan sebagai manusia.
Jika suatu hari tulisan ini dibaca oleh seseorang—mungkin mahasiswa, aktivis muda, jurnalis, atau siapa pun yang pernah merasa tak punya daya di depan sistem—aku ingin mereka tahu bahwa aku juga pernah di titik itu.
Dan jika kelak aku ditanya, "Mengapa kamu menulis seperti ini?", maka akan kujawab:
"Karena aku sudah mengetuk banyak pintu, dan hanya tulisanlah yang tidak menolakku masuk."
“Di negeri yang katanya hukum adalah panglima, barangkali suara rakyat kecil harus berkamuflase dalam puisi dan prosa. Karena kalau terlalu jujur, ia bisa dibungkam sebelum didengar.”
🌿 Ditulis oleh:
Usfia Usman
Penjaga cerita yang menolak dilupakan
usfia-pustaka.blogspot.com
Comments
Post a Comment