Ketika Emansipasi Menyisakan Sepi
Ketika Emansipasi Menyisakan Sepi
✍️ Oleh Usfia Usman
Aku tidak pernah menolak emansipasi. Sebagai perempuan, aku menghargai perjuangan para perempuan sebelumku yang membuka jalan agar kita bisa belajar, bekerja, dan bersuara. Tapi ada satu hal yang akhir-akhir ini terus mengganggu pikiranku: apa jadinya ketika emansipasi kehilangan batas, hingga justru menyengsarakan perempuan itu sendiri?
Kita sering diajak percaya bahwa perempuan bisa jadi apa saja. Bisa mandiri, bisa kuat, bisa jadi pemimpin. Tapi di balik itu semua, aku melihat banyak perempuan yang sebenarnya hanya ingin dilindungi, dimengerti, dan tidak dibiarkan menanggung semuanya sendirian. Aku sering melihat perempuan bekerja sampai malam. Mereka menjadi driver ojek online, kurir, atau petugas toko yang tutup larut. Mereka duduk di pinggir jalan menanti orderan, sering kali sendirian dalam gelap. Aku juga melihat perempuan dengan perut hamil besar masih bekerja mengejar target. Lalu aku bertanya dalam hati: di mana laki-laki dalam cerita ini?
Dan ini bukan hanya dirasakan oleh perempuan lajang. Bahkan perempuan yang sudah menikah pun mengalami hal serupa—tetap harus bekerja hingga malam, tetap memikul beban, bahkan saat sedang hamil besar. Emansipasi kadang dipahami sebagai “perempuan harus bisa semua,” tapi tidak dibarengi dengan pembagian peran dan perlindungan. Apakah peran laki-laki kini hanya sekadar menghamili dan memerintah?
Aku tidak sedang menyalahkan semua laki-laki. Tapi aku mengajak kita semua—perempuan dan laki-laki—untuk berpikir lebih kritis tentang makna kesetaraan. Emansipasi bukan berarti menyerahkan semua beban ke pundak perempuan. Perempuan bukan robot, bukan makhluk super. Kami manusia. Kami punya batas. Mungkin karena semua ini, aku masih sendiri. Karena aku takut berada dalam hubungan di mana aku justru lebih lelah. Aku ingin ada tempat pulang, bukan tambahan beban. Aku ingin menjadi perempuan yang mandiri, tapi tetap punya ruang untuk bersandar. Karena kuat bukan berarti ingin sendirian selamanya.
Kepada para perempuan, mari kita pikirkan ulang:
Apakah ini emansipasi, atau sekadar bentuk baru dari kesepian?
Di tulis berdasarkan perasaan dan pengamatan pribadi
Comments
Post a Comment