Ketika Harapan Dikhianati: Kisah Guru Ngaji dan Marbot Masjid yang Dipermainkan Pejabat

Ketika Harapan Dikhianati: Kisah Guru Ngaji dan Marbot Masjid yang Dipermainkan Pejabat

Ilustrasi 


Ditulis oleh: Usfia Usman


Aku ingin menuliskan ini bukan karena ingin dikasihani, tapi karena aku ingin keadilan.

Kakakku adalah guru ngaji di sebuah TPQ di Sidoarjo. Ia mengajar anak-anak mengaji dengan sabar, dengan gaji yang sedikit . Ayah kami seorang marbot masjid, setiap hari membersihkan masjid yang terletak di Sidoarjo , menjaga sajadah tetap bersih, dan menjaga adzan tetap berkumandang.

Kami hidup dalam keterbatasan ekonomi. Saat ini kami tinggal di sebuah kos yang sudah tidak layak huni, dindingnya retak-retak, dan sewanya pun kami kesulitan bayar. Tapi kami bertahan, karena memang tidak punya pilihan lain.

Lalu datanglah sebuah program transmigrasi, katanya dari pemerintah. Kami kira ini jalan keluar. Kami ikut sesuai prosedur, mengirim dokumen lengkap, dan berharap. Tapi ternyata harapan itu ditampung oleh oknum pejabat yang mempermainkan.

Ia menjanjikan pemberangkatan, lahan dua hektar, pekerjaan, bahkan kuliah. Tapi semua itu hanya umpan. Ia mulai meminta kami mengubah umur ayah agar memenuhi syarat. Mulai mengirim pesan pribadi yang tidak pantas. Bahkan mengajak kakakku bertemu di luar konteks urusan transmigrasi, tapi kakakku tidak mau.

Setelah semuanya kami lakukan, dia menghilang. Tidak ada formulir resmi. Tidak ada surat keputusan. Hanya kebohongan dan pengkhianatan.

Surat yang kami kirimkan ke dinas justru dikembalikan ke pelaku. Nomor Kakakku diblokir. Kepala dusun memotret rumah kami di Pasuruan tanpa izin dan menyebarkan cerita yang tak pernah kami buat. Seolah-olah kami memohon program, padahal kamilah yang ditipu.

Kami tahu kami miskin. Tapi bukan berarti kami pantas dipermainkan.

Kami hanya keluarga yang ingin hidup lebih layak dengan cara yang sah dan jujur. Tapi pejabat itu memanfaatkan posisi dan kuasanya untuk mencampuradukkan bantuan negara dengan niat pribadinya.

 "Ketika pejabat tak lagi bisa dipercaya, maka rakyat akan mulai ragu pada negara. Bukan karena mereka membenci pemerintahan, tapi karena mereka terlalu sering dikhianati oleh wakilnya sendiri."

Kami ingin keadilan. Bukan sekadar pengakuan, tapi tanggung jawab.

Pemerintah harus hadir, bertindak, dan mengganti semua yang telah dirusak oleh oknumnya. Bukan hanya karena kami terluka, tapi karena jika ini dibiarkan, maka penghinaan terhadap rakyat kecil akan terus berlangsung dan dianggap biasa.

Kami kehilangan waktu, tenaga, biaya, dan harapan.
Kami dimanipulasi, dibohongi, bahkan dibungkam.

"Guru ngaji dan marbot bukanlah orang yang sering muncul di berita. Tapi tanpa mereka, iman dan ibadah masyarakat akan runtuh. Lalu mengapa mereka begitu mudah dikhianati?"

Kami percaya suara kecil ini bisa sampai, jika kamu bantu sebarkan. Kami tidak ingin viral. Kami hanya ingin didengar.
Kami tidak mencari iba. Kami hanya ingin kebenaran ditegakkan dan kerugian kami diganti secara adil.


Comments