Ketika Perempuan Lajang Miskin Harus Menanggung Sendirian

Ketika Perempuan Lajang Miskin Harus Menanggung Sendirian

Penulis ✍️ usfia usman

                         Gambar ilustrasi 

Perempuan lajang dari keluarga miskin sering berada di posisi yang paling tidak dilihat dalam masyarakat.  Mereka dianggap belum dewasa, belum serius hidup, belum layak dibebani urusan penting.  Padahal diam-diam, merekalah yang menanggung beban yang tidak ringan. Karena tubuh mereka kecil, karena datang sendirian, karena tidak punya suami atau anak, mereka sering dipanggil seperti anak-anak.  Dipandang seolah belum waktunya bicara soal hidup yang berat.

Tapi begitu umur mereka diketahui—misalnya 30-an ke atas—komentarnya langsung berubah:  

“Wah, sudah tua ya?”  

“Kenapa belum menikah?”  

“Udah gak bisa ikut program ini, kebanyakan umur.”

Mereka tidak pernah dianggap cukup.  
Terlalu muda untuk didengar, terlalu tua untuk diikutkan.

Yang lebih menyakitkan, mereka juga sering dianggap tidak punya beban.  
Padahal kenyataannya, banyak dari mereka hidup hanya mengandalkan tubuh sendiri, kerja serabutan, dan tetap harus membantu orang tua yang semakin tua.  
Mereka harus menyisihkan uang belanja, membayar kos sendiri, dan tetap mengirim untuk keluarga.  Tidak ada yang menggantikan peran mereka kalau mereka sakit. Tidak ada asuransi. Tidak ada pegangan.

Berbeda dengan perempuan yang sudah menikah, yang sering dianggap sudah “punya kehidupan sendiri”.  
Mereka lebih dihargai oleh sistem dan lingkungan karena punya anak, punya rumah tangga, punya status sosial.  
Padahal belum tentu semua perempuan menikah mandiri secara ekonomi.

Lucunya, yang sering meremehkan perempuan miskin lajang justru sesama perempuan.  Perempuan menikah yang lebih muda, merasa lebih berat hidupnya karena punya anak.  Mereka lupa, perempuan lajang juga punya tanggungan—bukan bayi, tapi orang tua yang sudah lanjut usia.  Dan beban itu tidak bisa ditinggal atau dibagi.  
Perempuan miskin lajang mengurus semua sendiri. Dengan uang sendiri. Dengan waktu sendiri. Tanpa siapa-siapa.

Tapi tetap saja mereka dianggap “belum waktunya”, dianggap “lebih ringan hidupnya”, dianggap “masih enak bebas”.

Mereka tidak dapat posisi dalam program sosial.  Mereka dilewatkan dari peluang beasiswa atau bantuan, karena umurnya dianggap lewat.  Mereka juga tidak dianggap kepala keluarga, karena belum menikah.  Padahal yang mereka tanggung kadang jauh lebih berat.

Beban tidak selalu berbentuk anak.  
Beban bisa berupa rasa takut kehilangan orang tua, rasa bersalah kalau tidak bisa memberi uang, atau kecemasan soal masa depan yang tidak punya jaminan.
Tapi perempuan lajang miskin tidak dianggap membawa itu semua.

Kedewasaan tidak selalu datang dari pernikahan.  Terkadang, justru datang dari perempuan miskin yang bertahan hidup tanpa siapa-siapa,  tapi tetap memikirkan semua orang di sekitarnya.

Read version English in here 

Comments

Post a Comment